
Liburan akhir semester ini ku manfaatkan untuk berlibur ke Jogja. Sekaligus menunggu waktu wisuda yang masih satu bulan lagi. Bersama 2 orang temanku, Andri dan Lilis, kami berangkat dari Jakarta dengan menggunakan kereta Taksaka Malam tujuan Jogja. Waktu itu hari Kamis, 14 Februari 2008. Tiketnya sendiri sudah kami pesan sehari sebelumnya dengan harga Rp.180.000 dan Perjalanan ditempuh dalam waktu 8 jam. Hari berikutnya satu temanku lagi, Devi, datang menyusul. Setibanya di Jogja dua sepupuku akan menemani kami keliling Jogja.
Ada beberapa alternatif untuk sampai di Jogja bisa dengan pesawat terbang yang memakan waktu 50 menit dengan tiket seharga kurang lebih Rp.300.000 atau bisa juga dengan menggunakan bis antar kota yang memakan waktu sekitar 12 jam dengan harga tiket antara Rp.50.000 – Rp.100.000. Tiba di Jogja kami merencanakan tempat wisata apa saja yang akan kami kunjungi.

Hari pertama, Manding.
Karena hari itu hari Jumat, setelah sholat Jumat usai kami bergegas ke sentra industri kerajinan kulit yang berlokasi di daerah Manding, Bantul. Memasuki wilayah ini, disepanjang jalan berjejer toko yang menjual berbagai produk kerajinan kulit dengan harga yang cukup terjangkau dan kualitas yang tidak kalah bagus dengan barang-barang yang di jual di toko-toko di pusat kota, ditambah lagi dengan pilihan dan model yang beragam mulai dari sandal, sepatu, tas, jaket, topi, dompet, ikat pinggang, dan berbagai pernak-pernik lainnya yang terbuat dari kulit. Harga yang ditawarkan pun terjangkau mulai dari ribuan hingga ratusan ribu tergantung model dan bentuk, tetapi untuk belanja disini harus pandai menawar.


Hari kedua, Prambanan dan Pantai n’Depok.
Dengan menggunakan sepeda motor untuk menuju Prambanan dibutuhkan waktu sekitar 40 menit dari rumah yang berada di kawasan Wojobaru, Ringroad selatan. Sengaja kami melalui jalan Wonosari yang tidak seramai jalan Solo, disamping itu pemandangan sepanjang jalan ini masih asri dan menyejukkan mata. Tiket masuk ke kompleks candi Prambanan adalah Rp.8.000/orang. Di kompleks candi Prambanan ini dapat dilihat bangunan candi Hindu yang dibangun sekitar tahun 850 Masehi. Terdapat 3 candi yang berukuran besar dan 2 candi ukurannya lebih kecil. Tapi kami hanya dapat melihat candi ini dari luar pagar karena candi-candi ini sedang dipugar karena gempa tahun 2006 silam. Keluar dari kompleks candi Prambanan kami sempatkan untuk makan siang disekitar candi, hanya dengan Rp.5.000 saja kami sudah dapat menikmati pecel dengan lontong ditambah satu tusuk sate telur puyuh.
Setelah makan siang kami lanjutkan ke kompleks candi berikutnya yang berada di sebelah utara candi Prambanan, yaitu candi Lumbung, candi Bubrah, dan candi Sewu. Ketiganya merupakan kompleks candi Buddha namun yang terbesar adalah candi Sewu sedang candi Bubrah sudah tidak berbentuk lagi dan hanya berupa puing-puing saja.
Dari utara Jogja kami menuju selatan Jogja, tepatnya pantai n’Depok. Disini kamimelihat indahnya matahari terbenam sambil bermain-main dengan air. Karena n’Depok sendiri merupakan kawasan perkampungan nelayan, dipinggir pantai banyak sekali kedai-kedai yang menjual masakan laut. Harganyapun sangat terjangkau ditambah lagi suasananya yang mendukung, harga ikan cakalang perkilonya saja Rp.15.000 dan itu sudah dimasak. Hidangannya cukup beraneka ragam mulai dari Ikan, cumi, kepiting, udang, kerang, dan hasil laut lainnya.

Hari ketiga, Candi Borobudur.
Perjalanan ke candi Borobudur ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit. Sekitar 2 km sebelum candi Borobudur kami melihat candi Mendut yang tepat berada disisi jalan. Candi Borobudur dapat terlihat dari kejauhan karena letaknya yang berada diatas bukit, sedangkan tiket masuknya Rp.9.000/orang. Karena lokasinya yang berada diatas bukit maka untuk mencapai candi Borobudur cukup melelahkan bagi yang tidak terbiasa berjalan jauh ditambgah lagi dengan jalan yang menanjak. Pada Candi Borobudur terdapat 4 tingkatan yang masing-masing tingkatan terdapat relief yang menggambarkan kisah kehidupan manusia. Dari atas candi pemandangan sekitar candi sangat indah yang terdiri dari perbukitan. Turun dari candi kami sempatkan membeli minuman tradisional “Leugen”. Minuman yang terbuat dari air sadapan tangkai bunga kelapa dan terasa manis ini segelasnya Rp.1.000.

Hari keempat, Malioboro.
Kawasan yang cukup terkenal di kota Jogja ini menyuguhkan wisata belanja. Sepanjang jalan Malioboro berjejer beraneka macam pedangang, mulai dari pakaian , souvenir, makanan khas Jogja, dan lainnya. Kami juga sempat mampir ke Mirota Batik. Toko berlantai 2 ini menyuguhkan berbagai macam barang pernak-pernik tradisional, bisa katakan dagangan yang ada di Malioboro dijual disni.

Hari kelima, Keraton.
Kami hanya sempat masuk ke “Serambi” karena jam 14.30 sudah tutup, tiketnya sendiri Rp.3.000/orang. Disini dapat dilihat berbagai baju tentara keraton dipintu masuk, kemudian ada bangsal Siti Hinggil yang digunakan untuk penobatan Raja dan relief perjuangan Sultan Hamengku Buwono IX melawan penjajah Belanda. Dari situ kami pergi ke kediaman Sultan yang masih ditinggali hingga sekarang. Untuk masuk kami diharuskan membeli tiket seharga Rp.5.000/orang. Didalam kediaman sultan ini banyak terdapat benda-benda peninggalan sultan mulai dari sultan ke-II hingga sultan yang sekarang. Di pintu masuk terdapat kurungan ayam yang digunakan untuk upacara turun tanah, yaitu upacara untuk anak yang sedang mulai belajar berjalan. Disalah satu kamar terdapat tempat tidur yang terbuat dari perak. Dibelakang bagian rumah terdapat gamelan yang hanya dibunyikan pada waktu-waktu tertentu.
Ya, kami hanya sempat mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut. Sebenarnya masih banyak tempat wisata lainnya seperti istana air Taman Sari, Goa Cerme, pantai Parang Tritis, pemandian ar panas Parang Wedang, Pantai Baron, candi Ratu Boko, Kaliurang di lereng gunung merapi dan masih banyak lagi tempat lainnya yang bagus untuk dikunjungi.

0 komentar:
Posting Komentar